Empat Tahap Pemberdayaan yang Dijalankan Berurutan
Pemberdayaan di PPDMS tidak berjalan sporadis, melainkan mengikuti alur yang runtut: pendekatan, penyadaran, pengkapasitasan, hingga pendayaan. Pada tahap pendekatan, organisasi membangun kepercayaan satu per satu dengan anggota, tahap yang sering kali paling berat karena harus melawan stigma yang melekat pada penyandang disabilitas di lingkungannya. Dari kedekatan itulah tumbuh kesadaran bahwa setiap difabel adalah subjek pembangunan, bukan sekadar penerima bantuan.
Tahap berikutnya adalah penyadaran dan pengkapasitasan. Anggota didorong memahami hak-haknya sekaligus dibekali keterampilan yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, bukan dipukul rata. Puncaknya adalah pendayaan: terbentuknya kelompok-kelompok pemberdayaan difabel di tingkat desa yang mampu mengelola kegiatan secara mandiri. Model inilah yang membuat PPDMS tumbuh sebagai gerakan dari bawah ke atas dan kerap dijadikan rujukan penelitian UGM, UNY, UKDW, hingga UNNES.
Ekonomi Inklusif
Dari Kerajinan hingga Pasar Eropa
Kegiatan ekonomi menjadi salah satu pilar agar anggota tidak hanya berdaya secara sosial tetapi juga mandiri secara finansial. Produk unggulannya adalah keset kain perca yang dikerjakan anggota difabel, yang telah menembus pasar Eropa. Pengelolaannya dilakukan lewat koperasi dan pelatihan internet marketing sehingga pemasaran tidak lagi bergantung pada perantara.
Selain keset, PPDMS mengembangkan batik ciprat dan topi bregodo. Seluruh rantai produksi, dari penyiapan bahan hingga pemasaran, melibatkan anggota sehingga nilai ekonominya kembali kepada mereka. Pendekatan ini membuktikan bahwa ekonomi kreatif bisa menjadi jalan keluar dari ketergantungan pada bantuan semata.
Kebencanaan Inklusif
FDTB, Menghadirkan Difabel dalam Kesiapsiagaan Bencana
Melalui Forum Disabilitas Tangguh Bencana (FDTB) yang berdiri sejak 2018, PPDMS menempatkan penyandang disabilitas sebagai bagian penting dalam penanggulangan bencana. Kelompok berisiko ini kerap terabaikan saat bencana terjadi, padahal tingkat kerentanannya justru lebih tinggi. FDTB menjawabnya dengan kegiatan revitalisasi resan, reboisasi, serta kesiapsiagaan berbasis komunitas.
Berbagai pelatihan dan lokakarya digelar, termasuk workshop Penyusunan Rencana Aksi (RPAM) dan lokakarya bersama BMKG melalui Ina-BMKG (IBF). Kegiatan ini memastikan jalur informasi dan evakuasi benar-benar inklusif bagi seluruh anggota masyarakat, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas.
Edukasi
PUTPAT CAMAT untuk Generasi Siaga
PUTPAT CAMAT adalah board game edukasi karya PPDMS yang mengajarkan kebencanaan, disabilitas, dan pengetahuan umum secara menyenangkan. Dirancang untuk pelajar dari tingkat TK hingga SMA serta masyarakat umum, permainan ini juga melibatkan anggota difabel dalam produksinya, sehingga menjadikannya sekaligus wahana social enterprise.
Dengan bermain, anak-anak belajar mengenali risiko bencana, memahami hak-hak penyandang disabilitas, dan menumbuhkan empati sejak dini. Materi lengkap dan cara bermainnya dapat dilihat pada menu Putpatcamat.
Advokasi, Pendidikan & Kesehatan
Membuka Akses Publik dan Layanan
Di bidang advokasi, PPDMS aktif mendorong dana desa yang inklusif dan memastikan keterwakilan difabel dalam Musrenbang, sehingga kepentingan mereka masuk dalam perencanaan pembangunan desa. Di bidang pendidikan, organisasi memperjuangkan pendirian Sekolah Luar Biasa (SLB) sekaligus menyelenggarakan pelatihan komputer, fotografi, keset, dan batik bagi anggota.
Dari sisi kesehatan dan sosial, PPDMS menghadirkan Pos Binaan Terpadu (Pos Bindu), dropping air saat kekeringan, dukungan sebaya (peer support), serta karawitan inklusif sebagai ruang berekspresi dan kebersamaan. Seluruh layanan ini diperkuat oleh tata kelola yang akuntabel melalui kebijakan GESI, safeguarding, dan anti-fraud.